Minggu, 07 Agustus 2011

CARA TAHAMMUL HADITS (MENERIMA HADITS) DAN LAFADZ-LAFADZ YANG DIPAKAI UNTUKNYA

Jalan mentahamulkan/menerima hadits ada delapan macam:

1. Mendengar perkataan guru
Jalan pertama ini adalah jalan yang paling tinggi yaitu dengan mendengarkan guru aik syaikh sedang mengimlakkan dari sesuatu kitab, dari hafadhannya, ataupun dengan tidak mengimlakkan

2. Dengan jalan ilmu musthalah dengan ‘Ardl
Yaitu kita membaca sesuatu kitab kepada seorang guru atau kita baca hafalan kita kepada seorang guru, atau kita memperhatikan pembacaan seseorang yang membacanya, baik dari kitabnya ataupun dari hafalannya. Riwayat melalui jalan ini dibolehkan (dibenarkan) dengan syarat guru itu seorang yang benar menghafadh apa yang dibaca di hadapannnya atau memegang kitab yang menjadi asal bagi kitab yang dibaca oleh seorang muridnya itu, atau kitab tersebut dipegang oleh seseorang lain yang kepercayaan.


3. Melalui ijazah
Yang menurut bahasa berarti memotong, melaksanakan, membenarkan seperti ajazal aqda’ artinya membenarkan akad itu (dia menyatakan syahnya akad itu). Ijazah ini terdiri dari 4 unsur:
• Mujez, yaitu syaikh yang memberikan ijazah
• Mujaz, yaitu yang menerima ijazah
• Mujaz bihi, yaitu kitab atau juz dan seumpamanya
• Lafadz ijazah, yaitu ibarat yang menunjukkan kepada keizinan periwayatan
Para ulama’ berselisih tentang bolehkan kita meriwayatkan hadits yang kita terima
dengan jalan ijazah? Segolongan Muhadditsien Syamsal Syu’bah, Ibrahim al Harbi, Abu Naser Al Waili tidak membolehkan. Pendapat ini dikuatkan juga dari Abu Haniefah, Malik dan seluruh riwayat dari Asy Syafi’i.
Abu Amer Al Auz’y tidak membolehkan kita meriwayatkan sesuatu hadits yang kita terima dengan jalan ijazah ini, tetapi boleh kita amalkan sendiri.
Macam-macam ijazah:

a. Ijazah Khash li khash, yaitu seseorang Syaikh menentukan orang dan menentukan kitab yang dimaksudkan itu , seperti yang ia katakan:
“Saya telah ijazahkan kepada engkau Shahih al Bukhori”

b. Ijazah Khas bi ‘Aam, yaitu menentukan orang yang diberikan ijazah dengan tidak menentukan kitab-kitab yang diijazahkan ataupun hadits, seperti yang ia katakan:
“Aku ijazahkan kepada engkau segala hadits yang telah aku dengar”
Atau
“Aku ijazahkan kepada kamu segala hadits yang telah aku dengar”
c. Ijazah ‘Aam bi ‘Aam, yaitu “Tidak menentukan orang yang menerima ijazah dan tidak pula menentukan hadits-hadits yang ditenukan”, seperti yang dikatakan:
“Aku ijazahkan kepada setiap orang, segala yang aku riwayatkan”
Atau
“Aku ijazahkan kepada segala orang islam segala hadits-hadits yang aku riwayatkan”
d. Ijazah Mu’aiyan bi Majhul atau ijazah Majhul li Mu’aiyan, yaitu mengijazahkan kepada orang yang tertentu kitab-kitab yang tidak ditentukan, seperti yang dikatakan:
“Aku ijazahkan kepada engkau sebagian hadits-hadits yang aku riwayatkan”
e. Mengijazahkan apa yang dia sendiri tidak menerimanya dari seorang guru, baik secara sama’ ataupun secara ijazah
“Seperti yang ia katakan aku ijazahkan kepada si Fulan shohih Al Buhori”

f. Ijazatul Mujaz, yaitu mengijazahkan apa yang kita terima secara ijazah, seperti yang dikatakan:
“Aku ijazahkan kepada engkau segala apa yang telah diijazahkan kepadaku meriwayatkannya”
Lafadh-lafadh yang dipakai dalam ijazah:
“Aku ijazahkan dia atau aku ijazahkan kepadamu”

4. Munawallah
Maksudnya seorang ahli hadits memberikan sebuah hadits, beberapa hadits atau sebuah kitab kepada muridnya agar sang murid meriwayatkan darinya.
Macam-macam mulawallah:

a. Munawallah yang menyertai ijazah, adalah sebagai berikut:
Inilah riwayatku atau haditsku dari si Fulan, maka riwayatkanlah dia dari padaku.

b. Munawalah yang tidak menyertai ijazah, seperti seseorang guru memberikan sesuatu kitab kepada seorang murid seraya berkata,
“Ini, hadits yang telah aku dengar dari guru”
Atau
“Ini, dari haditsku”
Lafadh-lafadh yang diterima melalui jalan munawallah dengan memakai perkataan:
“Haddasana: dia telah menceritakan kepada kami”
Atau
“Akhbarana: dia telah mengabarkan kepada kami”


5. Mukatabah
Yaitu seorang guru menulis dengan tangannya sendiri atau meminta orang lain menulis darinya sebagian haditsnya untuk seorang murid yag ada di hadapannya, atau murid yang berada di tempat lain lalu guru itu mengirimkannya kepada sang murid bersama orang yang bisa dipercaya
Mukatabah ada dua bagian:

a. Mukatabah disertai dengan ijazah

b. Mukatabah tanpa disertai dengan ijazah
Lafadh-lafahd yang dipakai dengan jalan ini adalah:
“Telah diceritakan kepada aku oleh si Fulan secara tertulis”

6. I’lam As Syaikh
Maksudnya seorang Syaikh memberitahukan kepada muridnya bahwa hadits tertentu atau kitab tertentu merupakan bagian dari riwayat-riwayat miliknya dan telah didengarnya atau diambilnya dari seseorang.

7. Al Washiyyah
Yaitu seorang guru berwasiat, sebelum berpergian jauh atau sebelum meninggal, agar kitab riwayatnya diberikan kepada seseorang untuk meriwayatkan darinya, bentuk ini adalah bentuk tahammul yang amat langka.

8. Al Wijadah (Penemuan)
Kata Al wijadah dengan kasroh wawu merupakan konjunggasi dari kata wajada-yajidu bentuk yang analogis. Ulama’ hadits menggunakannya dengan pengertian ilmu yang diambil atau didapat dari shohifah tanpa ada proses mendengar, mendapatkan ijazah atau proses menawarkan.
Misalnya saorang menemukan kitab hasil tulisan orang sesamanya dan telah mngenal dengan baik tulisannya itu baik ia pernah bertemu atau tidak
Lafadh-lafadh yang pernah dipakai dengan jalan wijadah ialah:
“Saya dapati dalam kitab si Fulan”
”Saya membaca dalam khath (tulisan si Fulan)”
“Saya baca dalam kitabnya yang ditulis dengan khathnya”

Readmore »»

Sabtu, 06 Agustus 2011

PORTC pada atmega16

Kali ini ane pengen sharing pengalaman ane tentang portc pada atmega 16....
kejadian ini berawal dari temen ane yang minta ane programin mikronya, kebetulan mikrokontroler yang di pake sama dia adalah atmega16..
Rencananya portc pada uc tsb pengen dipake buat keypad, namun setelah ane bikinin program ternyata ada masalah tampilan pada lcd selalu tampil angka "1", padahal keypadnya belum dipencet apa-apa.


awalnya ane kirain mikronya bermasalah, dan ane kaga hirauin, soalnya masih banyak sisa port yang belum dipake soalnya ane programin mikronya per step. Namun pas ane gabungin programnya ternyata kurang portnya dan terpaksa portc harus dipake... karna ga bisa2, jadi ane bikin program kelap-kelip di portc buat meriksa tiap bit di portc.. setelah ane periksa pake avo meter, ternyata ada beberapa port yang ga respon pada saat diberi logika.... Nah ane bingung juga waktu itu, dengan pedenya ane bilang klo mikronya bermasalah :D.. Karena kebetulan ane juga punya atmega16 juga, maka ane coba juga tuh mikro punya ane buat bandingin....
setelah ane coba ternyata sama juga hasilnya...

akhirnya ane putus asa, trus ane tanyain tuh ke forum, eh ternyata di PORTC pada Atmega16 punya fungsi lain yaitu JTAG....

Setelah ane ubek-ubek di avr studio ternyata ada konfigurasi buat ngidupin dan matiin JTAGnya..

berikut ini cara matiin JTAGnya menggunakan AVR studio...
1. Pastikan Atmega16 dan proggramernya terhubung ke komputer, klo pas waktu itu proggramer punya ane usbmk ii...

2. buka AVR studio, trus klik menu Tools>Program AVR dan pilih connect...
3. ntar muncul seperti berikut dan pilih proggramer yang dipake lalu klik connect...
4. klik tab main, pada device and signature bytes pilih Atmega16

5. klik tab fuses, hilangkan centang pada JTAGEN dan klik proggram..

Nb: jika anda tidak tahu pasti fungsi-fungsi konfigurasi dari di atas jangan coba-coba merubahnya...


Readmore »»

Minggu, 24 Juli 2011

POINTER


Pointer merupakan salah satu bagian dari bahasa pemrograman C++ yang dapat digunakan untuk :
• Memberikan perubahan pada suatu argumen
• Mendukung alokasi dinamis
• Memberikan tingkat efisien dari suatu rutin

Suatu pointer dapat dikatakan sebagai keunggulan dari bahasa pemrograman C++ / C , sekaligus sebagai salah satu komponen yang berbahaya bagi bahasa pemrograman C++ / C , yaitu dapat menyebabkan sistem rusak atau menyebabkan kerusakan fatal yang sulit untuk ditemukan. Suatu pointer sendiri merupakan sebuah variabel yang mempunyai lokasi memori, yang dapat dilihat seperti dibawah ini :

Dari gambar diatas dapat kita lihat bahwa lokasi memori dimulai dari alamat 1000 hingga 1006, akan tetapi lokasi memori tersebut tidak sebatas sampai alamat 1006 saja bahkan bisa lebih dari itu.

*) Variabel Pointer

Jika suatu variabel akan menunjukkan suatu pointer maka variabel tersebut harus dideklarasikan seperti dibawah ini :
Tipe *nama;
tipe diatas merupakan tipe dari pointer dan nama merupakan nama dari variabel pointer.

*) Operator Pointer
Dalam bahasa program C++ terdapat dua bagian dari operator pointer , yaitu operator * dan &. Operator & ini merupakan suatu operator unari yang menunjukkan suatu lokasi memori, sebagai contoh statement dibawah ini :
y = &x;
y merupakan suatu lokasi memori yang ditunjukkan oleh variabel x. Hal ini dapat diasumsikan jika y merupakan lokasi memori (misalkan) 2000 dan misalkan x mempunyai nilai 100. Dari sini dapat kita ketahui pada alamat y = 2000 terdapat data x = 100. Operator pointer yang berikutnya ialah operator * yang merupakan operator unari yang menunjukkan data atau nilai dari lokasi memori y tersebut , hal ini dapat dilihat dari pernyataan dibawah ini :
z = *y;
z sendiri merupakan data atau nilai yang terletak pada lokasi memori y. Beberapa contoh program dengan menggunakan pointer :

Contoh1 (Kode Program) :
#include
#include
void main()
{ clrscr();
int x,z,*y;;
x = 10;
y = &x;
z = *y;
cout<<"nilai x = "<
cout<<"lokasi memori y = "<
cout<<"data z pada y = "<
getch();
}
Setelah dikompile dan di Run maka hasil dari kode program tersebut :

Contoh2 (Kode Program) :
#include
#include
void main()
{ clrscr();
double x,z,*y;;
x = 10;
y = &x;
z = *y;
cout<<"nilai x = "<
cout<<"lokasi memori y = "<
cout<<"data z pada y = "<
getch();
}
Setelah dikompile dan di Run maka hasil dari kode program tersebut :
Contoh3 (Kode Program) :
#include
#include
void main()
{ clrscr();
float x,z,*y;;
x = 10;
y = &x;
z = *y;
cout<<"nilai x = "<
cout<<"lokasi memori y = "<
cout<<"data z pada y = "<
getch();
}
Setelah dikompile dan di Run maka hasil dari kode program tersebut :
Bila dilihat dari hasilnya, maka lokasi memorinya berbeda, hal ini diakibatkan karena pada inisialisasi awal berbeda ada yang integer , double , dan float. Demikian pula jika anda menggunakan komputer yang spesifikasinya berbeda dengan komputer yang digunakan penulis, maka hasilnya pun bisa berbeda. Artinya disini , kita tidak melihat perbedaan tersebut , akan tetapi kita mengetahui tentang prinsip dari pointer tersebut.

untuk mendownload versi pdf dari artikel diatas:




Readmore »»

Sabtu, 18 Juli 2009

MASA SELEKSI DAN PENYEMPURNAAN SERTA PENGEMBANGAN SISTEM PENYUSUNAN KITAB HADITS

1. MASA SELEKSI
Masa seleksi atau penyaringan terjadi ketika pemerintahan dinasti Bani Abbas, khususnya sejak masa Al-Makmun sampai dengan Al-Muktadir (sekitar tahun 201-300 H). Munculnya periode seleksi ini karena pada periode sebelumnya, yakni periode tadwin, para ulama belum berhasil memisahkan beberapa hadits mauquf dan hadits maqtu’ dari hadits ma’ruf. Begitu pula halnya dengan memisahkan beberapa hadits yang dhaif dari yang shahih. Bahkan, masih ada hadits maudu’ yang tercampur pada hadits shahih.

Pada masa ini, para ulam bersungguh-sungguh mengadakan penyaringan hadits yang diterimanya. Melalui kaidah-kaidah yang ditetapkannya, mereka berhasil memisahkan hadits-hadits yang dhaif dari yang shahih dan hadit-hadits yang mauquf dan yang maqtu’ dari yang ma’ruf, meskipun berdasarkan penelitian berikutnya masih ditemukan terselipnya hadits yang dhaif pada kitab-kitab shahih karya mereka.


Kitab- Kitab Induk yang Enam (Kutub As-Sittah)

Berkat keuletan dan keseriusan para ulama pada masa ini, bermunculanlahkitab-kitab hadits yang hanya memuat hadits-hadits shahih. Kitab-kitab tersebut pada perkembangannya dikenal dengan Kutub As-Sittah (kitab induk yang enam).
Ulama pertama yang berhasil menyusun kitab tersebut adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah, yang terkenal dengan Imam Bukrori (194-252 H) dengan kitabnya Al-Jami’ Ash-Shahih. Kemudian Abu Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Kusairi An-Nasaiburi yang dikenal dengan Imam Muslim (204-261 H), dengan kitabnya Al-Jami’ Ash-Shahih.
Usaha yang sama dilakukan pula oleh Abu Daud Sulaiman bin Al-Asy’as bin Ishak As-Sijistani (202-275 H) yang menyusun As-Sunan Abu Daud, Abu Isa Muhammad binIsa bin Surah At-Tirmidzi (200-279 H) yang menyusun As-Sunan Tirmidzi, Au Abdul Ar-Rohman bin Suaid Ibn Bahr An-Nasa’I (215-302 H) yang menyusun As-Sunan An-Nasa’i, dan Abu Abdillah binYazid Ibnu Majah (207-273 H) yang menyusun kitab As-Sunan Ibnu Majah. Kualitas As-Sunan berada di bawah kitab karya Bukahari dan Muslim.

2. MASA PENGEMBANGAN DAN PENYEMPURNAAN SISTEM PENYUSUNAN KITAB-KITAB HADITS

Setelah munculnya Kutub As-Sittah dan Al-Muwatha’-nya Malik serta Al-Musnad-nya Ahmad Ibn Hambal, para ulam mengalihkan perhatiannya untuk menyusun kitab-kitab Jawami, kitab syarah mukhtasar, men-tahrij, menyusun kitab Athraf dan Jawaid serta menyusun kitab hadits untuk topik-topik tertentu. Ulama yang masih melakukan penyusunan kitab hadits yang memuat hadits-hadits shahih, di antaranya ialah Ibnu Hibban Al-Bisti (w. 354 H), Ibnu Huzaiman (w. 311 H), dan Al-Hakim An-Nasaburi.
Penyusunan kitab pada masa ini lebih mengarah kepada usaha mengembangkan dengan beberapa variasi pentadwinan terhadap kitab-kitab yang sudah ada, di antaranya dengan mengumpulkan isi kitab Shahih Bukhori dan Muslim, seperti yang dilakukan oleh Muhammad Ibnu Abdillah Al-Jauzaqi dan Ibnu Al-Farut (w. 414 H). mereka juga mengumpulkan isi kitab yang sama, seperti yang dilakukanoleh Abdul Al-Haq Ibnu Abdul Ar-Rahman Asy-Syabili (terkenal dengan Ibnu Al-Kharrat, w.583 H), Al-Fairu Az-Zabadi, dan Ibnu Al-Asir Al-Jazari. Ada yang mengumpulkan kitab-kitab hadits mengenai hukum, mereka ialah Ad-Daruqutni, Al-Baihaqi, Ibnu Daqiq Al-Ied, Ibnu Hajar Al-Asqolani, dan Ibnu Qudamah Al-Maqdisi.
Masa perkembangan hadits yang disebut terakhir ini berlangsung sangat lama, yaitu mulai abad keempat hijriah dan terus berlangsung hingga beberapa abad berikutnya sampai abad kontemporer. Dengan demikian, masa perkembangan ini melewati dua fase sejarah perkembangan Islam, yakni fase pertengahan dan fase modern.

Readmore »»

HADITS PADA MASA TABI’IN

Pada dasarnya periwayatan yang dilakukan oleh kalangan tabi’in tidak begitu berbeda dengan yang dilakukan oleh parasahabat. Hal ini karena mereka, mengikuti jejak parasahabat yang menjadi guru-guru mereka. Hanya saja persoalan yang dihadapi mereka agak berbeda dengan yang dihadapi para sahabat. Pada masa ini Al-Quran sudah dikumpulkan dalam satu mushaf. Di pihak lain, parasahabat ahli hadis telah menyebar ke-beberapa wilayah kekuasaan islam, sehingga para tabi’in dapat mempelajari hadis dari mereka.
Ketika pemerintahan dipegang oleh Bani Umayyah, wilayah kekuasaan islam telah meliputi Mesir, Persia, Irak, Afrika selatan, Samarkhand, dan Spanyol, di samping Madinah, Mekkah, basroh, Syam, dan Khurasan. Pesatnya perluasan wilayah kekuasaan islam, dan meningkatnya penyebaran parasahabat ke daerah-daerah tersebut menjadikan masa ini dikenal dengan masa penyebaran periwayatan hadis ( Intisar Ar-Riwayah Ila Al-Amshar).


1. PUSAT-PUSAT PEMBINAAN HADIS
a.Para sahabat yang membina hadist di Madinah :
*Khulafa Ar-Rasyidin *Abdullah Bin Umar
*Abu Hurairah *Abu Saidal-Khudzri
*Siti Aisyah
Para pembesar tabiin:
*Said Bin Al-Musayyab *Ubaidullah Bin Ustbah Bin Mas’ud
*Urwah Bin Az-Zubair *Salim Bin Abdillah Bin Umar
*Ibnu Syihab Az-Zuhri

b.Para sahabat yang membina hadis di Makkah:
*Muadz Bin Jabbal *Atab Bin Asid
*Haris Bin Hisyam *Usman Bin Thalhah
*Uqbah Bin Al-Haris
Para tabi’in:
*Mujahid Bin Jabbar *Ata’ Bin Abi Rabbah
*Tawus Bin Kaisan *Ikrimah Maula Bin Abi Abbas

c.Para sahabat yang membina hadis di Kufah:
*Ali Bin Abi Thalib *Sa’ad Bin Abi Waqas
*Abdullah Bin Mas’ud
Para tabi’in:
*Ar-Rabi’ Bin Qasim *Kamal Bin Zaid An-Nakho’i
*Said Bin Zubair Al-Asadi *Amir Bin Sarahil Asya’ibi
*Ibrahim An-Nakho’i *Abu Ishaq As-Sa’bi

d. Para sahabat yang membina hadis di Basroh:
*Anas bin Malik *Abdullah bin Abbas
*Imran bin Husein *Ma’qal bin Yasar
*Abdurahman bin Samrah *Abu said Al-asyari
Para tabi’in:
*Hasan Al-basri *Muhammad bin Sirrin
*Ayub Assakhyatani *Yunus bin Ubaid
*Abdullah bin Aun *Khatadah bin Duamah As-sudusi
*Hisyam bin Hasan

e.Para sahabat yang membina hadis di Syam:
*Abu Ubaidah Aj-Jarhi *Bilal Bin Rabah
*Uabadah Bin Shamit *Muadz Bin Jabbal
*Sa’ad Bin Uabadah *Abu Darda Suranbil Bin Hasanah
*Khalid Bin Walid *Iyad Bin Ghanan
Para tabi’in:
*Salim Bin Abdillah Al Muharibi *Abu Idris Al Khaulani
*Abu Sulaiman Addarani *Umair Bin Hana’i

f.Para sahabat yang membina hadisdi mesir:
*Amr Bin Al As *Uqbah Bin Amr
*Kharijah Bin Hurafah *Abdullah Bin Al Haris
Para tabi’in:
*Amr Bin Alharis *Khair Bin Nuaimi Alhadrami
* Yazid Bin Abi Habib *Abdullah Bin Abi Ja’fal
*Abdullah Bin Sulaiman At-Takwil

g. Para sahabat yang membina hadis di magrib dan andalus:
*Masud Bin Alaswad *Bilal Bin Haris Bin Asim Almuzani
*Salamah Bin Alaqwa *Walid Bin Uqbah Bin Abi Muid
Para tabi’in:
*Ziyad Bin Anam *Abdullah Bin Ziyad
*Yazid Bin Abi Mansur *Al Mughirah Bin Abi Burdah
*Rifa’ah Bin Raf’i *Muslim Bin Yas

h.Para sahabat yang membina hadis di yaman:
*Muadz Bin Jabbal *Abu Musa Alazhari
Para tabi’in:
*Hamam Bin Munabah *Wahab Bin Munabah
*Tawus * Ma’mar Bin Rasyid

i. Para sahabat yang membina hadis di khurasan:
*Buraidah Bin Husai Alaslami *Alhakam Bin Amir Alghifari
*Abdullah Bin Qosi Al Salami *Qasan Bin Al Abas
Para tabi’in:
*Muhammad Bin Ziyad *Muhammad Bin Sabit Al Anshori
*Ali Bin Sabit Al Anshori *Yahya Bin Sabih Al Mugri.

2.PERGOLAKAN POLITIK DAN PEMALSUAN HADIS
Pergolakan politik ini terjadi pada masa, setelah terjadinya perang jamal dan siffin, ketika kekuasaan dipegang oleh Ali bin Abi tholib. Akan tetapi, akan tetapi akibatnya cukup panjang dan berlarut-larut, dengan terpecahnya umat islam kedalam beberapa kelompok khawarij syiah muawiyyah, dan golongan mayoritas yang tidak termasuk dalam ketiga kelompok itu.. pengaruh negatifnya ialah munculnya hadis-hadis palsu (maudu’) untuk mendukung kepentingan politiknya masing-masing kelompok.
Adapun pengaruh yang berakibat positif ialah lahirnyarencana dan usaha yang mendorong diadakanya kodifikasi (tadwin) hadis sebagai upaya penyelamatan dari pemusnahan dan pemalsuan sebagai akibat dari pergolakan politik tersebut.

Readmore »»

HADITS PADA MASA SAHABAT

Periode kedua sejarah perkembangan hadis adalah masa sahabat,khususnya Khulafa Ar-Rasyidin(Abu baker,Umar bin Khattab,Ustman bin Affan, dan Ali bin Abi thalib),yaitu sekitar tahun 11 H sampai dengan 40 H.Pada masa ini perhatian sahabat masih terfokus pada pemeliharaan dan penyebaran Al-Qur’an,periwayatan hadis belum begitu berkembang dan masih dibatasi. Oleh karena itu,para ulama menganggap masa ini sebagai masa yang menunjukkan adanya pembatasan periwayatan(At-Tasabbut wa Al-Iqlal min Ar-Riwayah).

1. MENJAGA PESAN RASULULLAH

Pada masa menjelang akhir kerasulanya, Rasulullah SAW.berpesan kepada para sahabat agar berpegang teguh pada Al-Quran dan hadis serta mengajarkanya kepada orang lain, sebagaimana sabda Rasulullah yang artinya:

“Telah aku tinggyalkan untuk kalian dua pusaka. Jika kalian berpegang teguh kepada keduanya niscaya tidak akan tersesat, yaitu kitab Allah(Al-Quran) dan sunnah Rasul-nya.” (HR.Hakim)"

Dan sabdanya pulayang artinya:

“sampaikan dariku walaupun satu ayat atau satu hadis.”(HR.Bukhori)"

Pesan rasul itu dipegang erat-erat oleh para sahabat, sehingga segala perhatian mereka tercurah untuk melaksanakan dan memelihara pesan tersebut.Kecintaan mereka kepada Rasulullah SAW. dibuktikan dengan ketaatan mereka dalam melaksanakan segala yang dicontohkan beliau.

2. BERHATI-HATI DALAM MERIWAYATKAN DAN MENERIMA HADIS

Perhatian para sahabat pada masa ini terfokus pada usaha memelihara dan menyebarkan Al-Quran. Ini terbukti dengan dilakukanya pembukuan Al-Quran pada masa Abu Bakar atas saran Umar bin Khattab. Namun,sikap memusatkan perhatian terhadap Al-Quran tidak berate bahwa mereka lalai dan tidak menaruh perhatian terhadap hadis. Mereka tetap memelihara hadis sepertihalnya hadis-hadis yang diterima dari Rasulullah SAW. secara utuh ketika beliau masih hidup. Akan tetapi,dalam meriwayatkanya mereka sangat berhati-hati dan membatasi diri.
Kehati-hatian dan usaha membatasi periwayatan yang dilakukan para sahabat, disebabkan kekhawatiran mereka akan terjadinya kekeliruan pada hadis.Mereka menyadari bahwa hadis merupakan sumber tasyri’ setelah Al-Quran yang harus terjaga dari kekeliruanya sebagaimana Al-Quran. Oleh karena itu, para sahabat,khususnya Khulafa Ar-rasyidin (Abu Bakar,Usman,Umar dan Ali) dan sahabat lainya, Azzubair, Ibnu Abbas, dan Abu Ubaidah berusaha memperketat periwayatan dan penerimaan hadis.
Pada masa ini belum ada usaha untuk menghimpun hadis dalam satu kitab, sepertihalnya Al-Quran. Hal ini disebabkan agar umat islam tidak memalingkan perhatian atau kekhususan mereka dalam mempelajari Al-Quran. Selain itu, para sahabat yang banyak menerima hadis Rasulullah SAW.sudah tersebar keberbagai daerah kekuasaan islam,dengan kondisi seperti ini, ada kesulitan untuk mengumpulkan mereka secara lengkap. Pertimbangan lainya, bahwa membukukan hadis dikalangan para sahabat sendiri terjadi perselisihan pendapat.

3. PERIWAYATAN HADIS DENGAN LAFAL DAN MAKNA

Pembatasan dan penyederhanaan periwayatan hadis, yang ditujukan oleh para sahabat dengan sikap kehati-hatianya, bukan berarti bahwa mereka tidak meriwayatkan hadis-hadis Rasul itu sama sekali. Tapi, dalam batas-batas tertentu, hadis-hadis itu diriwayatkan, khususnya yang berkaitan dengan kebutuhan hidup masyarakat sehari-hari atau dalam soal ibadah dan muamalah. Namun, periwayatan tersebut dilakukan setelah meniti dengan ketat pembawa hadis dan kebenaran isi matanya.

a. Periwayatan lafzhi
Periwayatan lafzhi adalah periwayatan hadis yang matanya persis seperti yang diwurudkan Rasulullah SAW. ini hanya bisa dilakukan apabila mereka benar-benar menghapal hadis yang disabdakan Rasulullah SAW.
Kebanyakan para sahabat menempuh periwayatan hadis dengan jalan ini. Mereka berusaha agar periwayatan hadis sesuai dengan redaksi dari Rasulullah SAW.Dan bukan menurut redaksi mereka.Dalam hal ini Umar bin Khattab pernah berkata:
“Barang siapa yang mendengar hadis dari Rasulullah SAW. Kemudian ia meriwayatkanya sesuai yang ia dengar, maka ia akan selamat.”
Diantara para sahabat yang paling menuntut periwayatan hadis dengan lafzhi adalah Ibnu Umar.

b. Periwayatan Maknawi
Para sahabat lainya berpendapat bahwa dalam keadaan darurat karena tidak hafal persisseperti yang diwurudkan Rasulullah SAW.dibolehkan meriwayatkan hadis secara maknawi.periwayatan maknawi artinya periwayatan hadis yang matanya tidak sama dengan yang didengarnya dari Rasulullah SAW. Tetapi isi atau maknanya tetap terjaga secara utuh sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW.
Meskipun demikian, parasahabat melakukanya dengan sangat hati-hati. Ibnu Mas’ud misalnya, ketika ia meriwayatkan hadis, ia menggunakan term-term tertentu untuk menguatkan penukilanya, seperti dengan kata qala Rasulullah SAW hakadza atau qala Rasulullah SAW qariban min hadza.
Periwayatan hadis dengan maknawi mengakibatkan munculnya hadis-hadis yang redaksinya antara satu hadis dengan hadis lainya berbeda-beda, meskipun maksud dan maknanya tetap sama. Hal ini sangat bergantung pada parasahabat atau generasi berikutnya yang meriwayatkan hadis-hadis tersebut.

Readmore »»

HADITS PADA MASA RASULULLAH SAW.

Membicarakan sejarah pertumbuhan dan perkembangan hadits bertujuan untuk mengangkat fakta dan peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah kemudian secara periodic pada masa-masa sahabat dan tabi’in.
Apabila membicarakan hadits pada masa Rasulullah berarti membicarakan hadits pada awal pertumbuhannya. Maka dalam uraiannya akan berkaitan langsung dengan pribadi Rasulullah sebagai sumber hadits. Rasulullah telah membina umatnya selama 23 tahun. Mas aini merupakan kurun waktu turunnya wahyu dan sekaligus di-wurud-kannya hadits. Keadaan ini sangat menuntut keseriusan dan kehati-hatian para sahabat sebagai ahli waris pertama ajaran Islam.

Wahyu yang diturunkan Allah SWT. kepada Rasulullah dijelaskannya melalui perkataan (aqwal),perbuatan (af’al), dan-taqrir-nya, sehingga apa yang didengar, dilihat, dan disaksikan oleh para sahabat dapat dijadikan pedoman bagi amaliah dan ubudiah mereka. Pada masa ini Rasulullah merupakan contoh satu-satunya bagi para sahabat, karena ia memiliki sifat kesempurnaan dan keutamaaan selaku Rasul Allah SWT. yang berbeda dengan manusia lainnya.

1. CARA RASUL MENYAMPAIKAN HADITS

Ada satu keistimewaan pada masa ini yang membedakannya dengan masa lainnya, yaitu umat Islam dapat secara langsung memperoleh hadits dari Rasulullah sebagai sumber hadits. Pada masa ini tidak ada jarak atau hijab yang dapat menghambat atau mempersulit pertemuan mereka.
Ada beberapa cara yang digunakan Rasulullah dalam menyampaikan hadits kepada para sahabat, yaitu :
Pertama, melalui para jama’ah yang berada di pusat pembinaan atau majelis al-ilmi. Melalui majelis ini, para sahabat memperoleh banyak peluang untuk menerima hadits secara langsung dari Rasulullah.
Kedua, dalam banyak kesempatan, Rasulullah juga menyampaikan haditsnya melalui para sahabat tertentu, kemudian mereka menyampaikannya kepada orang lain. Hal ini terjadi ketika beliau mewurudkan hadits, hanya beberapa sahabat yang hadir, baik karena disengaja oleh Rasulullah atau memang kebetulan para sahabat yang hadir hanya beberapa orang saja, bahkan hanya satu orang, seperti hadits-hadits yang ditulis oleh Abdullah Amr bin Al-As. Untuk hal-hal tertentu yang berkaitan dengan keluarga dan kebutuhan biologis (terutama menyangkut hubungan suami- istri), beliau menyampaikannya melalui istri-istrinya. Begitu pula dengan sahabat, jika mereka segan bertanya kepada Rasulullah, dalam hal-hal yang berkaitan dengan soal di atas, mereka seringkali bertanya kepada istri-istri beliau.
Ketiga, cara lain yang dilakukan Rasulullah adalah melalui ceramah atau pidato di tempat terbuka, seperti ketika haji wada’ dan Fathu Makkah.

2. MENGHAFAL DAN MENULIS HADITS

a. Menghapal Hadits
Untuk memelihara kemurnian dan mencapai kemaslahatan Al-Qur’an dan hadits sebagai dua sumber ajaran Islam, Rasulullah menggunakan jalan yang berbeda. Terhadap Al-Qur’an beliau mengintruksikan kepada sahabatnya supaya menulis dan menghapalnya. Sedangkan terhadap hadits, beliau menyuruh mereka menghapal dan melarang menulisnya secara resmi. Dalam hal ini, beliau bersabda yang artinya :

“Apa saja yang kalian tulis apa saja dariku selain Al-Qur’an, hendaklah dihapus. Ceritakan saja yang diterima dariku. Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaknya ia menempati tempat duduknya di neraka”
(HR. Muslim dan Abu Said Al-khuzri )

Maka para sahabat berusaha menhhapal hadits yang diterima dari Rasulullah dengan sungguh-sungguh. Mereka sangat takut dengan ancaman Rasulullah sehingga berusah agar tidak melakukan kekeliruan terhadap apa yang diterimanya.
Ada dorongan kuat yang cukup memberikan motivasi kepada sahabat dalam kegiatan menghapal hadits ini, yaitu :
1. Kegiatan menghapal merupakan budaya bangsa Arab yang telah diwarisi sejak masa pra Islam dan mereka terkenal kuat hapalannya.
2. Rasulullah banyak memberikan spirit melalui doa-doanya.
3. Seringkali beliau menjanjikan kebaikan akhirat bagi mereka yang menghapal hadits dan menyampaikannya kepada orang lain.

b. Menulis Hadits

Sekalipun ada larangan Rasulullah untuk menulis hadits seperti disebutkan dalam hadits Abu Said Al-Khuzri di atas, ternyata ada sejumlah sahabat yang mempunyai catatan-catatan hadits. Di antara mereka adalah :
1) Abdullah bin Amr bin Al-As memiliki hadits yang menurut pengakuannya dibenarkan oleh Rasulullah, sehingga dinamakan As-Sahihah As-Sadiqah.
2) Jabir bin Abdullah bin Amr Al-Anshari (w. 78 H) memiliki catatan hadits dari Rasulullah tentang manasik haji yang kemudian diriwayatkan oleh Muslim dan dikenal dengan Sahifah Jabir.
3) Abu Huroiroh Ad-Dausi (w. 58 H) memiliki catatan hadits yang diwariskan kepada putranya yang bernama Hamman dan dikenal dengan As-Sahifah As-Shahihah.
4) Abu Syah (Umar bin Sa’ad Al-Anmari) seorang penduduk Yaman.

Readmore »»